Selasa, 31 Maret 2009

Memulai dari Akhir

Manis ya senyuman kakek gambar di atas?:) Setiap kali saya bertemu dan memandang wajah kakek atau nenek seperti gambar diatas, setiap itu juga saya merasa terkenang dengan perjalanan hidup saya. Ya, saya langsung, pada saat itu juga, membayangkan kira-kira seperti apa saya nanti. Apakah saya akan menjadi seorang kakek yang arif, puas dengan pencapaian-pencapaian yang telah diperjuangkan selama ini, menjadi orang tua yang masih terus semangat menjalani hidup. Ataukah nanti saya menjadi seorang kakek sakit-sakitan, lemah, tidak berdaya.

Memulai dari akhir, kata tersebut pernah saya temui di salah satu buku best seller pada waktu kuliah dulu. Salah satu cara yang paling efektif untuk menjaga motivasi kita dalam menjalankan hidup dan tetap istiqomah di jalan-Nya adalah kita membayangkan bila kita sudah tiada, seperti apa orang-orang akan mengenang kita. Bisa jadi seseorang akan mengenang kita dengan "Febri si tukang malas", "Febri si berantakan", "Febri si Biasa Saja". Atau sebaliknya "Febri si Creative Problem Solver", "Febri si Muslim Istiqomah", "Febri si Cerdas", "Febri si Jago komputer" dan lain sebagainya. Ya bisa saja mereka mengenang hal-hal tersebut dibenak mereka. Itu semua tergantung dengan seberapa kuat identitas kita selama hidup, akhlak kita selama hidup, apa nilai-nilai yang kita anut dan kita jalankan dengan istiqomah selama kita hidup. Semua itu secara tidak sadar akan tertanam dibenak orang-orang sekitar kita dan pada akhirnya orang mengenal kita seperti yang mereka fikirkan.

Pada saat melihat gambar seperti itu juga saya langsung teringat, bahwa nikmat muda akan hilang. Mengingatkan saya untuk terus bersyukur dan selalu mengingat ingat nikmat muda sebelum tua, lapang sebelum sempit, sehat sebelum sakit, kaya sebelum miskin dan hidup sebelum mati. Subhannallah...maha suci engkau, segala puji hanya untuk Mu ya Allah... Jadikanlah saya manusia yang menjadikan waktu sebagai alat untuk produktif selalu.

Action yang sedang saya lakukan saat ini sebagai hasil tafakur tersebut adalah membiasakan diri setiap hari dengan kebiasaan-kebiasaan baru. Karena awalnya kita yang membentuk kebiasaan-kebiasaan tapi pada akhirnya kebiasaan-kebiasaan tersebut yang akan membentuk kita. Semoga tetap istioqmah menjalankan action yang satu ini. Amin.

Wallahualam....

(gambar diambil dari http://hapihappy.files.wordpress.com/2008/03/old-people-smile.jpg)

Sabtu, 28 Maret 2009

Penyakit Bangsa versi KH Zainuddin MZ

Ada yang unik dari paparan-paparan KH Zainuddin MZ pada peringatan maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Al-Bakrie Kemarin. Kemampuan beliau melakukan utak-atik bahasa dan istilah memang menjadi ciri khas beliau, dan berdampak kepada pendengarnya yang tidak merasa bosan saat mendengarkan tausyiah dari beliau. Salah satu hasil dari ilmu utak atik tersebut adalah paparan tentang penyakit yang sedang dilanda oleh umat islam di Indonesia.

Setidaknya ada 3 penyakit yang dimiliki oleh umat Islam di Indonesia.

1. KuDis atau Kurang Disiplin. Yang saya tangkap dari paparan beliau tentang point 1 adalah tentang ilmu Istiqomah dan dasar islam yang merupakan Disiplin. Beliau mencontohkan pada saat sesudah seorang muslim ber-syahadat maka muslim tersebut harus disiplin dalam mengakui bahwa tempat kita bergantung, tempat kita memohon, bahwa yang berkuasa adalah Allah SWT, walau bagaimanapun keadaan yang sedang kita alami. Sholat juga mengajarkan kita untuk disiplin waktu. Puasa pun sama kerasnya mengajarkan disiplin. Dan semua ibadah, disiplin pasti melingkupi nya. Dan pada akhirnya kebiasaan disiplin tersebut dapat kita tularkan ke keseharian kita. Dari satu individu menjadi satu kelompok kemudian besar menjadi masyarakat dan akhir nya sebuah bangsa yang disiplin, terhindar dari penyakit Kudis.



2. KuRap atau kurang Rapih. Pokok inti dari penyakit ini adalah lemahnya kemampuan memanage sesuatu yang telah di planning atau me-maintain sesuatu yang telah dibuat. Kemampuan management ini akan membuat planning menjadi realita dan segala sesuatu dirawat dengan baik.


3. Kutil atau kurang teliti. Umat ini sangat kurang bila menghadapi detail. Segala sesutu dibuat asal jadi, asal berdiri, asal berfungsi. Tapi sense of quality nya tidak ada. Sense of detile nya tidak pernah menjadi integritas diri. Akhirnya barang-barang atau service-service yang dibuat sama sekali tidak ada daya saing bila dibandingkan dengan competitor-competitor nya.


Semua itu terjadi karena Kuman atau Kurang Iman. Kita kurang yakin bahwa yang menguasai kita adalah Allah SWT, bahwa yang sabda dan nasihat yang paling benar adalah Alquran yang datang dari Allah SWT dan sunah yang dibawa Rasullullah, bahwa yang paling patut dicontoh adalah Rasullullah SAW. Seandainya Iman itu sudah melekat menjadi integritas seseorang Insya Allah 3 penyakit itu tidak akan terjadi pada masyarakat suatu bangsa.